Tari Gandrung Banyuwangi: Ikon Kesenian Banyuwangi Yang Mendunia

Banyuwangi, daerah yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dikenal sebagai “Sunrise of Java” bukan hanya karena panorama alamnya, tetapi juga karena kekayaan serta keanekaragaman kesenian Banyuwangi yang masih hidup hingga saat ini. 

Di antara berbagai tradisi yang hidup di sana, tari gandrung Banyuwangi menempati posisi istimewa sebagai salah satu ikon kesenian Banyuwangi. 

Tarian ini bukan sekadar hiburan, melainkan menjadi simbol identitas, kebanggaan, dan perlawanan masyarakat Osing terhadap berbagai tantangan zaman.

Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi

tari gandrung banyuwangi 1

Instagram @andriekartika

Tari Gandrung Banyuwangi berasal dari ritual syukur panen masyarakat Suku Osing di Banyuwangi, Jawa Timur. Tarian ini merupakan salah satu bagian penting dari perkembangan kesenian Banyuwangi. Tarian ini pada awalnya merupakan sebuah bentuk rasa syukur kepada Dewi Sri, dewi kesuburan, atas hasil panen yang melimpah. Hal ini terkait erat dengan akar tradisi masyarakat Banyuwangi, dalam hal ini adalah masyarakat Osing. 

Kata “gandrung” sendiri berarti “terpesona” atau “jatuh cinta”. Tarian ini melambangkan rasa cinta masyarakat terhadap kehidupan dan alam.

Pada awalnya, tarian ini ditarikan oleh laki-laki berpakaian perempuan pada abad ke-18 hingga akhir abad ke-19. Penyebaran Islam di wilayah Blambangan menyebabkan praktik tersebut hilang sekitar 1890-an, digantikan oleh penari perempuan yang memulai tradisi ini sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen. 

Pada masa kolonial Belanda, Tari Gandrung Banyuwangi tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga sarana komunikasi dan perlawanan terhadap penjajah. Pertunjukan Tari Gandrung Banyuwangi sering dijadikan sebagai ajang berkumpul, dan di sana, pesan-pesan perjuangan disampaikan secara terselubung melalui syair berbahasa Osing. 

Pada waktu itu, bisa dikatakan bahwa Tari Gandrung Banyuwangi berperan sebagai media budaya yang menyatukan semangat rakyat Banyuwangi untuk melawan penjajahan pada waktu itu.

Dari sebuah tarian ritual, Tari Gandrung berkembang menjadi pertunjukan seni yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas, termasuk wisatawan. Transformasi ini membuat Tari Gandrung Banyuwangi tetap relevan dan terus hidup hingga sekarang.

Transformasi Menjadi Hiburan Rakyat

tari gandrung banyuwangi 2

Instagram @bayu_c_pamungkas

Seiring berjalannya waktu, Tari Gandrung Banyuwangi berkembang menjadi hiburan yang ditampilkan dalam pesta panen, pernikahan, hingga acara adat. Penari Gandrung, yang biasanya perempuan muda, menjadi simbol keanggunan sekaligus daya tarik sosial. Tradisi ini kemudian mengakar kuat sebagai bagian dari kesenian Banyuwangi.

Awalnya bersifat sakral sebagai ritual kesuburan dan syukur kepada Dewi Sri, tari Gandrung bergeser fungsinya menjadi hiburan rakyat seiring masuknya pengaruh luar dan modernisasi pada abad ke-20. 

Pada periode dekade 1970-an, banyak gadis muda menjadi penari gandrung dan menjadikannya sebagai mata pencaharian. Banyaknya perempuan muda yang akhirnya menjadi penari gandrung ini juga seiring dengan adanya perubahan pada elemen seperti penambahan biola pada musik pengiring dan aksesori modern seperti kaus kaki putih.

Kini, sejak  tahun 2000, Tari Gandrung Banyuwangi menjadi ikon budaya dan pariwisata sekaligus representasi unggulan kesenian Banyuwangi. 

Salah satu transformasi penting dari Tari Gandrung Banyuwangi ini adalah menjadi ikon budaya Banyuwangi. Hal itu juga diperkuat dengan adanya Festival Gandrung Sewu yang eksis sejak 2012. 

Festival ini dilaksanakan di Pantai Boom dan menampilkan ribuan penari secara kolosal. Festival Gandrung Sewu ini merupakan acara yang diadakan rutin setiap tahun dan menjadikannya hiburan massal yang merevitalisasi sanggar tari lokal dan menarik wisatawan untuk datang ke Banyuwangi. 

Untuk mendukung pelestarian Tari Gandrung Banyuwangi ini, pemerintah mewajibkan ekstrakurikuler tari Jejer di sekolah-sekolah untuk memastikan tarian ini tetap hidup sebagai hiburan rakyat di tengah era globalisasi ini. 

Makna Filosofis Tari Gandrung Banyuwangi 

Di balik gerakan yang anggun dan ekspresif, tari Gandrung Banyuwangi sebagian dari kesenian Banyuwangi menyimpan makna filosofis yang dalam, antara lain sebagai berikut: 

1. Ungkapan Rasa Syukur kepada Tuhan

Secara historis, Tari Gandrung Banyuwangi muncul setelah masyarakat Banyuwangi terbebas dari masa penderitaan dan konflik pada masa lampau. Tarian ini menjadi ungkapan kegembiraan dan rasa syukur kepada Tuhan atas kehidupan yang kembali damai dan hasil panen yang baik.

2. Simbol Cinta terhadap Kehidupan

Kata “gandrung”  seperti yang sudah ditulis di  atas,  dalam bahasa Jawa berarti sangat mencintai atau tergila-gila pada sesuatu. Secara filosofis, hal ini melambangkan kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap kehidupan, alam, dan budaya mereka.

3. Representasi Keindahan dan Keramahan Masyarakat Banyuwangi

Gerakan tari Gandrung Banyuwangi yang lembut, luwes, dan penuh senyum mencerminkan karakter masyarakat Banyuwangi yang ramah, terbuka, dan hangat dalam menerima tamu.

4. Simbol Hubungan Sosial antara Penari dan Penonton

Dalam pertunjukan Tari Gandrung Banyuwangi, penari sering mengajak penonton untuk menari bersama. Ini memiliki makna filosofis bahwa manusia hidup dalam kebersamaan dan interaksi sosial, bukan sendiri.

5. Identitas Budaya dan Kebanggaan Daerah

Bagi masyarakat Banyuwangi, Tari Gandrung Banyuwangi merupakan simbol identitas budaya Osing (suku asli Banyuwangi). Tarian ini menjadi lambang kebanggaan daerah yang terus dilestarikan hingga sekarang.

Kostum dan Properti Tari Gandrung Banyuwangi 

Kostum dan properti Tari Gandrung Banyuwangi sangat khas dan berwarna‑warni, mencerminkan kehidupan agraris dan budaya Osing di Banyuwangi. Secara umum, kostum terdiri dari busana tubuh, bawahan, dan hiasan kepala, sedangkan properti utama adalah kipas dan sampur (selendang).

Busana tubuh yang dipakai oleh penari Tari Gandrung Banyuwangi biasanya terbuat dari bahan beludru hitam dengan hiasan benang emas atau manik-manik. 

Busana tubuh ini memiliki bentuk leher seperti leher botol yang melingkar di leher dan dada. Adapun bagian pundah dan sebagian punggungnya terbuka.

Busana bagian bawah menggunakan kain tradisional berupa batik Banyuwangi dengan motif khusus, yakni motif Gajah Oling. 

Lalu para penari menggunakan hiasan kepala yang sering disebut sebagai omprok. Omprok adalah mahkota khas yang berbentuk bulat dengan hiasan kembang goyang dan ornamen emas, merah, dan hitam. Omprok ini terkait erat dengan kearifan lokal dan identitas masyarakat Banyuwangi. 

Musik Pengiring Tari Gandrung Banyuwangi

Pertunjukan tari Gandrung Banyuwangi tidak dapat dipisahkan dari musik pengiringnya yang khas. Musik Gandrung menggunakan perangkat gamelan Banyuwangi, yang merupakan salah satu unsur penting dalam perkembangan kesenian Banyuwangi yang khas dan berbeda dari daerah lain di Jawa. 

Musik gandrung Banyuwangi ini terdengar beda karena adanya tambahan biola sebagai instrumen utama. 

Irama musik yang dinamis mengiringi setiap gerakan penari, menciptakan suasana yang hidup dan penuh semangat. Perpaduan antara tabuhan gamelan dan alunan biola menghasilkan harmoni yang memikat, membuat penonton larut dalam pertunjukan. Musik inilah yang memperkuat emosi dan cerita yang disampaikan melalui tarian.

Musik Gandrung menggunakan perangkat gamelan Banyuwangi, yang merupakan salah satu unsur penting dalam perkembangan kesenian Banyuwangi yang khas dan berbeda dari daerah lain di Jawa. 

Tari Gandrung Banyuwangi sebagai Atraksi Wisata Budaya

tari gandrung banyuwangi 3

Instagram @bayu_c_pamungkas

Saat ini, tari Gandrung Banyuwangi telah menjadi salah satu atraksi wisata budaya unggulan dalam kesenian Banyuwangi. Tarian ini sering ditampilkan dalam berbagai acara, mulai dari penyambutan tamu kehormatan, festival budaya, hingga event pariwisata berskala nasional dan internasional.

Salah satu acara paling terkenal adalah Festival Gandrung Sewu, yang menampilkan ribuan penari Gandrung di ruang terbuka dengan latar alam Banyuwangi. Festival ini berhasil menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara. 

Festival Gandrung Sewu menampilkan ribuan penari (seperti 1.173 penari pada 2018), pemusik, dan fragmen drama sejarah dengan tema seperti “Layar Kumendung” atau “Sumunare Tlatah Blambangan”. Event ini masuk dalam 100 Kharisma Event Nusantara (KEN) dan dipuji Kemenparekraf karena melestarikan kearifan lokal.

Melalui Tari Gandrung Banyuwangi, Banyuwangi tidak hanya mempromosikan seni tradisional, tetapi juga memperkenalkan identitas budaya daerah kepada dunia. 

Dampak untuk Pariwisata Lokal 

tari gandrung banyuwangi 4

Instagram @ ipukfdani

Festival ini meningkatkan kunjungan wisatawan, mengisi hotel hingga 100% okupansi, dan mempromosikan Banyuwangi sebagai destinasi budaya unggulan. Wisatawan menyaksikan tarian kolosal yang dikemas dengan cerita kepahlawanan, menciptakan pengalaman interaktif berbasis event tourism.

Ribuan warga mendapat manfaat melalui warung makan, transportasi, homestay, hotel, dan UMKM oleh-oleh. Pedagang UMKM dadakan meraup Rp1,5-3 juta per hari, dengan peningkatan pendapatan 70-90% untuk souvenir seperti udeng, batik, dan makanan khas. 

Event tahunan ini mendorong industri kreatif melalui bazar UMKM, produksi suvenir budaya, dan pelibatan seniman lokal dalam koreografi serta musik. Melalui beberapa studi, event ini menunjukkan dampak positif ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan bagi komunitas, serta memperkuat identitas lokal sebagai objek wisata favorit. 

Festival ini juga menjadi pengungkit pemulihan ekonomi pascapandemi.  

Penutup: Melestarikan Tari Gandrung Banyuwangi

Sebagai warisan budaya yang berharga, tari Gandrung Banyuwangi memiliki peran penting dalam menjaga identitas dan jati diri masyarakat Banyuwangi. Hal itu juga terkait dengan melestarikan kesenian Banyuwangi agar tetap hidup di tengah arus kemajuan zaman dan modernisasi. 

Keindahan gerakan, makna filosofis, serta nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya menjadikan Tari Gandrung lebih dari sekadar pertunjukan seni.

Dengan menyaksikan dan mengenal Tari Gandrung, wisatawan turut berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal. Saat berkunjung ke Banyuwangi, sempatkanlah untuk menikmati pesona Tari Gandrung Banyuwangi dan rasakan langsung kehangatan budaya dari ujung timur Pulau Jawa.

CHAT US