
Pengelolaan pariwisata didalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi tidak terlepas dari satu kesatuan unit manajemen kawasan Taman Nasional secara utuh, termonitor dan terencan, hal ini berdasarkan amanat Undang – Undang nomor 36 tahun 2010 tentang pengusahaan pariwisata alam terutama di kawasan Pelestarian Alam (KPA).

Pengelolaan pariwisata alam di Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi dilakukan terhadap obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA) ekosistem dan bentang alami kawasan yang khas, unik dan menarik perhatian pengunjung yang berwisata. Objek dan daya tarik wisata alam Taman Nasional Alas Purwo yang umum dikunjungi oleh wisatawan adalah :
Sadegan merupakan lokasi padang penggembalaan (feeding ground) satwa liar terutama banteng (Bos javanicus) yang cukup luas, dengan ukuran ± 80 ha. Pengunjung yang datang ke lokasi ini dapat beristirahat terlebih dahulu di dalam pondok yang ada ataupun langsung menuju menara pandang yang dekat dengan kondisi keberadaan yang khusus, unik dan aman digunakan untuk melihat satwa liar yang ada di dalam padang penggembalaan (feeding ground) Sadengan.
Satwa yang dapat dilihat melalui menara pandang di sadengan yaitu Banteng, Rusa, Kijang, Kancil, jag, Merak Hijau, Ayam hutan dan bebrapa jenis burung unik seperti Srigunting, Beo serta burung raptor (pemangsa) jenis Elang, Gagak, dan lain sebagainya. Pengunjung dapat menikmati pemandangan satwa liar di padang penggembalaan Sadengan setiap waktu, namun terdapat waktu tertentu yang dapat dengan mudah melihat satwa liar dengan jumlah yang melimpah, yaitu pada pagi hari, sore ahari dan saat musim kemarau serta musim kawin satwa liar.
Saat musim kemarau, satwa liar sering dijumpai dan berkumpul disekitarbak penampungan air yang disediakan di dalam padang penggembalaan (feeding ground) Sadengan. Pemandangan lain yang menarik dan jarang dijumpai di lokasi lainpun dapat dilihat di padang penggembalaan ini, seperti saat musim kawindan saat berkembang biaksatwa terutama jenis Merak hijau jantan yang sering melakukan atraksi mnenarik perhatian Merak hijau betina. Aktifitas yang dapat dinikmati pengunjung diantaranya pengamatan satwa liat, fotografi, penelitian, dan lain sebagainya.
Pengunjung yang datang ke lokasi padang penggembalaan (feeding ground) sadengan dapat mencapai lokasi melalui pintu Pos Rowobendo selama 15 menit (lima belas), disamping itu pengunjung juga dapat memanfaatkan fasilitas yang ada seperti pondok peneliti, lokasi parkir yang memadai. Lokasi obyek wisata lain yang dekat dengan Sadengan yaitu Trianggulasi dan Pura Luhur Giri Salaka, Lokasi ini dicapaiu dengan waktu tempuh ± 15 menit dengan berjalan kaki.
Trianggulasi merupakan lokasi pantai yang dijadikanstandar ajuan sebagai titik ikat pengukuran pada pemetaan. Titik ini beradadi dekat pantai lokasi wisata pantai Trianggulasi yang berjarak ± 500 m pada garis pantai pada saat dilakukan pengukuran awalnya, saat ini jarak tersebut telah berkurang seiring dengan abrasi pantai yang terjadi di dalam kawasan Taman Nasaional Alas Purwo.
Dilokasi ini terdapat beranela ragam jenis tumbuh – tumbuhan khas tepi pantai seperti Bogem/ Keben (Barringtonia asiatica), Sawo kecik (Manilkara kauki) dan tumbuhan lainnya yang dapat dinikmati pengunjung diselingi pemandangan tepi pantai yang indah dengan ombak pantai yang berasal dari Samudera Hindia. Selain itu terdapat lokasi piknis yang cukup luas sebagai arean wisata pengunjung yang datang untuk berekreasi menikmati pemandangan alam khas pantai dan juga lokasi menginap yang cukup memadai berupa bangunan rumah panggung khas tepi pantai.
Pengunjung yang datang ke lokasi pantai Trianggulasi dapat mencapai lokasi melalui pintu Pos Rowobendo dengan waktu tempuh selama 10 (sepuluh) menit. Fasilitas yang ada di lokasi ini yaitu areal piknik, pondok penginapan pesanggrahanyang dapat menampung cukup banyak pengunjung, dan fasilitas lain seperti MCK dan balai tempat untuk berkumpul. Lokasi objek wisata lain yang dekat dengan Trianggulasi yaitu Sadengan dan Pura Luhur Giri Salak, lokasi ini dapat dicapai dengan waktu tempuh ± 15 menit dengan berjalan kaki ataupun dengan kendaraan bermotor.
Pura Luhur Giri Salaka merupakan salah satu bangunan situs candi budaya bercorak Hindu – Jawa dengan bentuk pura umat agama Hindu. Disamping masih digunakan sebagai tempat beribadah ummat Hindu, di dalam kawasan pura ini terdapat banguna penginapan yang sering digunakan pengunjung wisata untuk menginap dan berekreasi di sekitar situs.
Banguna candi Pura Luhus Giri Salaka yang unik dan menarik adalah salah satu obyek daya tarik wisatawan yang berkunjung pada tempat ini. Selain itu, terdapat pula upacara pager wesi ummat Hindu yang dilakukan secara rutin setiap 210 hari dan kegiatan ritual lainnyayang sering menjadi perhatian wisatawan domestik maupun wisatawan lokal di lokasi ini. Aktifitas yang dapat dilakukan oleh para pengunjung wisat yang datang adalah berfotografi dan beribadah.
Pengunjung yang datang ke lokasi Pura Luhur Giri Salaka dapat mencapai lokasi melalu pintu Pos Rowobendo dengan waktu tempuh 5 (lima) menit. Fasilitas yang ada di lokasi ini relatif lengkap seperti banguna penginapan, MCK, dan lain sebagainya. Lokasi obyek wisata lain yang dekat dengan Puri Luhur Giri Salaka yaitu Sadengan dan Pantai Trianggulasi, lokasi ini dapat dicapai dengan waktu tempuh ± 15 menit dengan berjalan kaki ataupun dengan kendaraan bermotor.
Ngagelan merupaka lokasi pantai dengan pemandangan laut Samudera Hindia yang juga tempat pendaratan penyu yang berasal dari samudera Hindia. Selain mendarat, penyu-penyu yang datang ke pantai Ngagelan juga melakukan aktifitas bertelur dan memeti (melakukan perjalan di tepi pantai). Di lokasi ini terdapat bangunan Pusat Pengelolaan Penyu Semi Alami (PPSA) yang dilakukan oleh Taman Nasional Alas Purwo.
Sejak didirikannya pengelolaan penyu semi alami di Taman Nasional Alas Purwo, telat tercatat penyu yang mendarat di pantai Ngagelan sebanyak 4 (empat) jenis dari sebanyak 6 (enam) jenis penyu yang ada di Indonesia dna dari sejumlah 7 (tujuh) jenis penyu yang ada di dunia. Hal ini merupakan potensi sumber daya alami tersendiri bagi kawasan taman nasional sebagai kawasan konservasi satwa liar yang mampu dimanfaatkan potensi keberadaannya sebagai obyek dan daya tarik wisata alami Taman Nasional Alas Purwo.
Jenis penyu yang dikelola di PPSA Ngagelan yaitu jenis penyu Lekang/ Abu-abu (Lepidochelys olivaceae), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Blimbing (Chelonia mydas). Jenis penyu yang paling sering mendarat dan dijumpai di lokasi ini, yaitu jenis Penyu Lekang/ Abu-abu, penyu jenis inimudah terliha terutamapada musim-musim penyu bertelur dan berkembang biak. Penyu-penyu yang dikelola di PPSA Ngagelan selain dilindungi dengan melakukan penjagaan terhadap penyu yang mendarat, juga dilakukan pembinaan habitat telur penyu berupa usaha melakukan penetasan telur penyu secara semi alami pada lokais penangkaran dan juga di dalam upaya pemeliharaan Tukik (anak penyu) yang baru menetas, sampai dengan dinyatakan mampu untuk dilepaskan ke laut Samudera Hindia.
Pengelolaan Penyu Semi Alami (PPSA) di Ngagelan dimanfaatkan sebagai obyek wisata tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung. Pada umumnya pengunjung yang datang selain melakukankegiatan rekreasi juga dapat melakuka aktifitas fotografi, pelepasan tukik ke laut, dan juga pendidikan konservasi terutama bagi wisata pendidikan berwawasan lingkungan dan penelitian. Disamping itu, pengunjung juga dapat bersama-sama dengan petugas pengelola untuk melakukan aktifitas mencari (lalar) keberadaan penyu/ telur penyu di sepanjang pantai Ngagelan.
Pengunjunng yang datang dilokasi ini dapat memanfaatkan beberapa fasilitas yang tersedia di PPSA Ngagelan, seperti kantor pengelola PPSA Ngagelan, bangunan penetasan penyu semi alami, bak pemeliharaan tukik, papan informais dan lain sebagainya. Lokasi obyek wisata lain yang dekat dengan Ngagelan yaitu pantai Trianggulasi dan Bedul, lokasi ini dapat dicapai dengan waktu tempuh selama ± 25 menit dengan berjalan kaki ataupun dengan menggunakan kendaraan bermotor.
Pncur merupakan lokasi wisata pantai bagi masyarakat umum yang berkunjung di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Dinamakan Pancur karena dilokasi ini memiliki aliran sungai air tawar sepanjang tahun yang pada bagian hilirnya terhimpit secara alami oleh batuan terjal tepi pantai sehingga memiliki pancuran air yang langsung bermuara dengan laut. Di lokasi ini sering dilakukan kegiatan rekreasi oleh pengunjung baik untuk menikmati pemandangan pantai, mandi di pancuran air yang terbentuk secara alami dan berkemah di camping ground yang disediakan bagi pengunjung melakukan aktifitas berkemah.
Obyek dan daya tarik wisata di pancur, selain digunakan sebagai lokais wisata oleh para pengunjung, juga sering digunakan oleh para peneliti batua karst, karena dilokasi ini banyak terdapat hamparan karst (batua) tepi pantai yang unik dan menarik. Selain itu, disekitar kawasan Pancur juga terdapat hamparan tumbuhan bambu yang terdiri dari berbagai jenis bambu yang sering digunakan para peneliti bambu untuk melakukan akrifitas penelitian dan pendidikan.
Pengunjung yang datang dapat memanfaatkan bebrapa fasilitas yang disediakan oleh pengelola diantaranya, camping ground, kamar madi, musholla, warung, pos pengelolaan dan ruang informai pengunjung. Lokasi obyek wisata lain yang dekat dengan Pancur yaitu Gia Istana (selama ±45 menit) dan Goa Mayangkoro (selama ± 60 menit) dengan berjalan kaki, sedangkan dengan pantai Trianggulasi dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor selama ± 15 menit.
Goa Istanamerupaka salah satu dari sekitar ± 40 buah goa alami yang ada di Taman Nasional Alas Purwo. Lokasi goa ini sering digunakan sebagai tempat bersemedi (bertapa) oleh beberapa masyarakat sekitar dan beberapa pengunjungyang datang selain goa-goa lainnya seperti Goa Mayangkoro, Goa Padepokan, Goa Mangleng, dan Goa Kucur. Keberadaan dari goa ini letaknya sangat jauh dari akses jalan pengunjung, namun sering dikunjungi oleh kalangan tertentu deperti melakukan aktifitas spritual karena goa ini dianggap memiliki nulai sakral, dan pengunjung yang melakukan aktifitas rekreasi biasa dikarenakan tertarik oleh bentuk goa alami uni yang dapat dinikmati pemandangannya.
Didalam ruang Goa Istana terdapat berbagai jenis satwa liar seperti kelelawar dan ular yang umumnya dapat ditemukan di berbagai goa lainnya. Di lokasi ini juga, terdapat kubangan air yang berasal dari rembesan air pada tanah atas bagian goa yang dikenal dengan nama Sendang Srengenge. Kubangan air ini konon dipercaya masyarakat sekitar dapat membuat awet muda bagi orang yang memanfaatkan airnya. Keindahan stalagmit dan stalagtit di dalam goa yang terbentuk secara alami juga melengkapi pemandangan unik khas Goa Istana yang dapat dijumpai wisatawan yang berkunjung.
Pengunjung yang datang untuk berwisata baik wisata umum maupun wisata spiritual dapat memanfaatkan jalan setapak yang telah tersedia mulai dari pantai pancur. Beberapa fasilitas umum yang dapat digunakan pengunjung yang datang ke Goa Istana tersedia di lokasi pos penjagaan Pancur yang berjarak tempuh ± 45 menit dengan berjalan kaki menelusuri jalan setapak.
Goa Mayangkoro tidak jauh berbeda dengan Goa Istana. Di dalam ruang Goa Mayangkoro terdapat berbagai jenis satwa liar seperti kelelawar dan ular yang umumnya dapat ditemukan di berbagai goa lainnya. Keindahan stalagmit dan stalagtit di dlama goa yang terbentuk secara alami juga melengkapi pemandangan unik Goa Mayangkoro yang dapat dijumpai wisatawan yang berkunjung.
Keberadaan dari goa ini letaknya sangat jauh dari akses jalan pengunjung, namun sering dikunjungi oleh kalangan tertentu seperti melakukan aktifitas spiritual karena dianggap memiliki nilai sakral dan pengunjung yang melakukan aktifitas rekreasi biasa tertarik oleh bentuk goa alami yang unik dan dapat dinikmati pemandangannya.
Pengunjung yang datang untuk berwisata baik wisata umum maupun wisata spiritual dapat memanfaatkan jalan setapak yang telah tersedia mulai dari pantai Pancur. Beberapa fasilitas umum yang dapat digunakan pengunjung yang datang ke Goa mayangkoro tersedia di lokasi pos penjagaan Pancur yang berjarak tempuh ± 60 menit dengan berjalan kaki menelusuri jalan setapak.
Goa Padepokan tidak jauh berbeda dari Goa istana dan Goa Mayangkoro. Didalam ruang Gaoa Padepokan terdapat berbagai jenis satwa liar seperti kelelawar dan ular yang umumnya dapat ditemukan di berbagai goa lainnya.Keindahan stalagmit dan stalagtit di dlama goa yang terbentuk secara alami juga melengkapi pemandangan unik Goa Padepokan yang dapat dijumpai wisatawan yang berkunjung.
Keberadaan dari goa ini letaknya sangat jauh dari akses jalan pengunjung, namun sering dikunjungi oleh kalangan tertentu seperti melakukan aktifitas spiritual karena dianggap memiliki nilai sakral dan pengunjung yang melakukan aktifitas rekreasi biasa tertarik oleh bentuk goa alami yang unik dan dapat dinikmati pemandangannya.
Pengunjung yang datang untuk berwisata baik wisata umum maupun wisata spiritual dapat memanfaatkan jalan setapak yang telah tersedia mulai dari pantai Pancur. Beberapa fasilitas umum yang dapat digunakan pengunjung yang datang ke Goa Padepokan tersedia di lokasi pos penjagaan Pancur yang berjarak tempuh ± 60 menit dengan berjalan kaki menelusuri jalan setapak.
Pantai Plengkung merupakan lokasi bagian selatan Taman Nasional Alas Purwoyang sangat dicintai oleh para pecinta olah raga surfing/ berselancar. Lokasi ini memiliki karakteristik kondisi fisik pantai yang jarang dijumpai di lokasi wisata alam lain, hal ini dikarenakan kondisi fisik pantai yang berdekatan jaraknya secara langsung dengan perairan laut Samudera Hindia dan memiliki ombak sangat besar yang beraneka ragam bentuk dan ukurannya. Dasar laut lokasi ini merupakan patahan yang membentuk palung laut yang juga dibatasi dinding-dinding karang yang membentang sejauh ± 600 meter dari tepi pantainya sehingga arus laut Samudera Hindia yang membentur palung ini secara langsung dapat mengahasilkan ombak besar yang sangat digemari oleh peselancar mancanegara untuk selalu menikmatinya.
Gelombang laut di lokasi pantai Plengkung memiliki formasi yang dapat mecapai ketinggian 6 (enam) sampai 7 (tujuh) feet dan memiliki panjang gelombang mulai 1 (satu) sampai dengan 2 (dua) kilometer jauhnya. Kondisi gelombang laut ini dapat dijumpai pada sekitar bulan Juni sampai dengan Juli. Para pecinta olahraga selancar (surfing) menamai masing-masing formasi gelombang yang ada dengan istilah nama Kong, Money trees, Launching pad, speedy, Chicken break, Twenty-twenty dan Tiger track. Kondisi gelombang laut yang ada dilokasi ini juga dapat dijumpai apabila ada atau tidaknya angun Barat ke laut, oleh karena itukegiatan surfing biasanya dilakukan antara bulan maret sampai dengan bulan Oktober.
Daratan pantai Plengkung merupakan hamparan ekosistem khas hutan pantai dan ekosistem hutan dataran rendah. Selain itu, juga terdapat ekosistem rumpun bambu yang khas di Taman Nasional Alas Purwo sebagai pelengkap keanekaragaman flora alami yang ada. Tumbuhan yang dapat dijumpai di lokasi ini pada umumnya seperti bambu, sawo kecik, gebang dan lain sebagainya. Satwa liar yang ada dilokasi ini mudah terlihat dan mudah dijumpai dengan jarak yang cukup dekat, satwa liar tersebut diantaranya seperti ,monyet ekor panjang, lutung hitam/ budeng, babi hutan, kijang, rusa sampai dengan banteng dan beberapa jenis burung yang unik dan menarik sebagai pelengkap keanekaragaman fauna di kawasan ini.
Pengunjung yang datang ke pantai Plengkung pada umumnya telah mengetahui keunikan pantai dengan potensi wisata ombak yang cukup besar dan beranekaragam formas ini. Berdasarkan keterangan peselancar kelas dunia yang sering berkunjung, ombak di Plengkung termasuk ke dalam 3 (tiga) terbaik dunia. Selama ini, telah dilangsungkan sebanyak 4 (empat) kali event selancar tingkat internasional yang diselenggarakan di lokasi pantai Plengkung, sehingga banyak turis mancanegara yang telah mengenal Plengkung sejak lama.
Pengunjung wisata yang datang ke pantai Plengkung umumnya dapat memanfaatkan fasilitas uang telah disediakan oleh perusahaan penyedia jasa penginapan khusus yang telah ada. Fasilitas yang tersedia sudah sangat lengkap disajikan bagi para tamu/ pengunjung wisata Plengkung mulai dari yang sederhana sampai dengan mewah. Sampai dengan saat ini terdapat 3 (tiga) perusahaan alam yang mengelola jas penginapan khusus beserta kelengkapan kegiatan surfing / selancar ini, perusahaan tersebut yaitu PT. Plengkung Indah Wisata, PT. Wana Wisata Alam Hayati, dan PT. Wanasari Pramudita Ananta.
Lokasi obyek wisata lain yang dekat dengan Plengkung yaitu pantai Pancur yang dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor selam ± 45 menit. Di dlama perjalanan pengunjung dapat menikmati pemandangan panorama laam berupa hutan pantai dan hutan dataran rendah beserta keberadaan flora dan fauna yang ada. Selain itu pengunjung juga dapat menikmati keindahan panorama pantai Plengkung disertai dengan pemandangan sunrise dipagi hari.