Meras Gandrung ; Prosesi Seorang Penari
Perkembangan pariwisata Kabupaten Banyuwangi cukup melesat dan menjadi pusat perhatian public dalam kurun waktu beberapa tahun kebelakang. Tak hanya menawarkan keindahan alam yang membentang indah, namun Banyuwangi juga dikaruniai ragam adat dan seni budaya yang tumbuh di tengah masyarakatnya.
Salah satunya yakni kesenian gandrung. Bahkan, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini dijuluki sebagai kota seribu gandrung berkat adanya Festival Gandrung Sewu yang dihelat setiap tahunnya. Sekitar seribu lebih penari gandrung dari tingkat SMP dan SMA akan menari di bibir Pantai Boom disaksikan ribuan penonton.
Namun ternyata ada yang membedakan antara menjadi penari gandrung dan menjadi gandrung itu sendiri. Sebab, untuk menjadi seorang penari gandrung ia cukup memahami gerakan dan bias menarikannya di hadapan publik. Tapi menjadi seorang gandrung bukanperkara mudah.

Menjadi seorang gandrung bukan hanya dituntut untuk bias membawakan olah tarian gandrung saja. Lebih dari itu, ia wajib melakoni berbagai macam tahapan dari sebuah proses utuhnya pagelaran. Karena seorang gandrung tidak hanya dituntut untuk bias menari. Namun juga bias menyanyi (nyinden) semalam suntuk hingga menjelang subuh.
Tugas menyanyi itupun bukanlah hal yang gampang. Seorang gandrung harus bias membawakan gending atau lagu-lagu berbahasa Using dengan pelafalan dan cengkok yang benar. Mayoritas lirik gending Using pun memiliki nada yang cukup tinggi.
Untuk membentuk suara tinggi nan melengking, seorang gandrung bahkan diwajibkan menjalani prosesi ritual gurahan. Yakni sebuah prosesi memasukkan ramuan kedalam hidung agar dapat merubah suara sang gandrung, yakni proses memupuh pita suara. Ramuan itu merupakan campuran kunir, daun lombok, cukaaren, bawang merah dan bahan lainnya yang dicampur menjadi satu.

Prosesi ritual pun dilanjutkan dengan acara Meras Gandrung. Yakni proses selamatan dengan berbagai sajian khas Suku Using. Seperti tumpeng, jangan kelor, jangan tawon atau lebah (agar nantinya penonton dating berkerumun seperti lebah), kembang setaman, serta kemenyan. Prosesi inilah yang wajib dilakoni oleh seorang gandrung sebelum ia tampil menari dihadapan banyak penonton.
Proses yang cukup panjang itu biasanya memang dilakukan dalam mempersiapkan seorang penari gandrung untuk menjadi gandrung seutuhnya. Yang tak hanya mampu menari, namun sekaligus dapat menyanyi atau menyinden dalam Bahasa Using yang syarat makna.
Sendratari Meras Gandrung

Prosesi ritual Meras Gandrung menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang gandrung. Sebab di sanalah gandrung seolah diwisuda, karena telah lulus melampaui berbagai macam tahapan sebelum benar-benar menguasai keahlian menjadi seorang gandrung seutuhnya.
Selama ini prosesi wisuda gandrung tersebut hanya menjadi konsumsi para senimannya saja. Namun sejak akhir tahun lalu, prosesi meras gandrung disajikan dalam sebuah sendratari di Taman Gandrung Terakota, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Istimewanya, tahun ini pagelaran meras gandrung dihelat setiap bulan dalam Festival Lembah Ijen di tempat yang sama.

Festival Lembah Ijen menyuguhkan sendratari Meras Gandrung dengan empat babak dari kehidupan seorang penari. Setiap babak menceritakan setiap proses yang harus dilalui oleh seorang penari gandrung sebelum akhirnya dinobatkan sebagai seorang gandrung. Dengan suasana hawas ejuk di bawah pegunungan Ijen, penonton seolah dibawa masuk kedalam kehidupan penari tersebut.
Babak pertama menceritakan tentang suasana sebuah desa yang asri tempat dimana terdapat anak-anak kecil yang sedang bermain. Tak lama datanglah seorang penari gandrung yang berniat mengajarkan tari kepada anak-anak tersebut. Tujuannya jelas, agar tarian gandrung memiliki generasi penerus dari masa ke masa.
Babak Kedua menceritakan mengenai kisah penari gandrung yang telah remaja. Dikisahkan, ia telah mengalami berbagai proses seperti menghafal gerak tari serta gending-gending Using. Hingga proses penghayatan music dengan para para panjak (penabuh music gandrung). Pada babak inilah, prosesi inti Meras Gandrung yaitu pupuh pita suara dilaksanakan. Penari gandrung itu pun diperas alias diwisuda.

Pada babak ketiga, sang gandrung mulai mementas kantarian Jejer Gandrung dan Podo Nonton. Tari Jejer Gandrung merupakan tarian permohonan izin kepada tuan rumah dan para tamu sebelum rentetan pertunjukan gandrung dimulai. Selanjutnya, sang gandrung akan nyinden dengan gending Podo Nonton yang syairnya bermakna sangat dalam. Yakni menceritakan tentang kesengsaraan rakyat Banyuwangi ketika mengalami kerja paksa saat masa penjajahan kompeni. Pada babak ini, sang gandrung juga melantun kangending Kembang Tenur yang menceritakan tentang kecantikan seorang gadis desa.
Di babak yang terakhir dalam rangkaian sendratari Meras Gandrung, sang gandrung akan melakukan aksi Paju Gandrung. Yakni sebuah tarian kehormatan yang ditujukan untuk tuan rumah dan para tamu. Sang gandrung akan menghantarkan selendang atau sampur kepada tuan rumah dan para tamu untuk diajak menari bersama. Pada babak inilah, kehangatan acara tersebut semakin terasa.

Dalam babak Paju Gandrung tersebut menyiratkan seolah tak ada sekat antara sang gandrung maupun masyarakat yang menontonnya. Semua lebur dalam tarian dengan diiringi music khas Banyuwangi. Dalam momen ini, seluruh panggung di amphi theater Taman Gandrung Tera kota akan dipenuhi oleh pengunjung yang sedang menari dengan puluhan penari gandrung.
Taman Gandrung Terakota
Taman Gandrung Tera kota dibangun sebagai situs dalam upaya merawat dan meruwat salah satu identitas Banyuwangi, yakni tari gandrung. Hal ini dianggap penting untuk dilakukan sebab dalam realitanya, tarian ini mengalami pasang surut yang sangat dirasakan oleh senimannya.
Dalam sejarahnya, tarian gandrung bermula sebagai tari persembahan masyarakat agraris kepada Dewi Sri, yang juga dikenal sebagai Dewi Kesuburan atau Dewi Padi. Dahulu setiap usai panen, masyarakat yang mayoritas adalah petani itu terbiasa bersuka cita. Mereka menari dan menyanyi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah ruah.

Lambat laun, tari gandrung menjadi tari pergaulan yang digemari oleh seluruh lapisan masyarakat. Hingga kemudian tarian ini menjadi salah satu ikon kesenian Banyuwangi. Melihat dari kisah semacam itu, dalam kawasan persawahan di sekitar Jiwa Jawa Resort Ijen dibangunlah situs Taman Gandrung Terakota (Terracotta Dancers). Yakni dengan menampilkan ratusan patung terakota berwujud penari Gandrung yang tersebar di sekitar persawahan hijau nan asri, tepat di depan amphi theater tempat sendratari Meras Gandrung dihelat.
Kurator Galeri Nasional Indonesia Dr. Suwarno Wisetrotomo mengatakan jika karya terakota yang berbentuk penari Gandrung tersebut merupakan upaya merawat bumi. Di luar sana, banyak monumen yang sifatnya gigantic dan menjulang kelangit sudah dibangun dan dianggap sebagai kelaziman, namun di situs ini justru kebalikannya.

Di sini monument ratusan patung tembikar itu lebih membumi, layaknya praktek kebudayaan. Sebab puluhan karya terakota di sana tidak bertujuan untuk menciptakan bentuk yang abadi atau kekal. Karena memang sifatnya yang ringkih, mudah retak, patah, atau bahkan hancur.
Menurut Suwarno, justru di situlah makna dan nilai yang ditawarkan. Yakni kesenian dan ketidakabadian. Ia menambahkan, sebab yang abadi adalah proses, makna, dan nilai-nilai yang melekat di dalamnya. Dalam kontek sini, dapat dikatakan bahwa yang abadi adalah “siklus kehidupan”. Karena terus-menerus berada dalam proses ; proses belajar, proses memahami, proses kreasi, yang akan berujung pada merayakan kehidupan.

Patung tera kota gandrung di sana merupakan suatu monument kehidupan yang organik. Yaitu yang memiliki narasi penting bagi masyarakat sekitarnya, ikon daerah, sekaligus berpotensi menginspirasi bagi orang banyak. Suwarno menegaskan, pembangunan kawasan Taman Gandrung Tera kota sepenuhnya dalam kesadaran semacam itu. Yakni membangun kawasan dan situs yang membawa manfaat baik.
Untuk informasi tentang PAKET WISATA BANYUWANGI anda bisa menghubungi kami melalui WhatsApp +6281359649559 / Email balijavaholidays@gmail.com